Inilah Sejarah Perkembangan Dari Musik Folk

Musik merupakan salah satu seni yang memiliki banyak penggemar. Mendengarkan musik merupakan kegiatan yang mungkin hampir kita lakukan setiap hari karena hal ini bisa membuat hati kita terhibur. Setiap orang memiliki selera yang berbeda-beda terhadap musik, seperti : rock, pop, dangdut, blues, RnB dan lain sebagainya. Selain jenis musik yang disebutkan diatas, ada satu jenis musik yang mungkin jarang Anda dengar, yaitu musik Folk. Mungkin sebagian dari kita jarang mendengar jenis musik yang satu ini, tapi tidak usah khawatir karena artikel di bawah ini akan membahas tentang folk.

Sejarah Musik Folk

Musik folk bisa diartikan sebagai dua kesatuan musik yang berbeda. Musik folk bisa diartikan sebagai musik tradisional/musik kerakyatan yang tersebar di setiap negara. Musik folk juga bisa diartikan sebagai genre musik yang muncul di pertengahan abad ke-20, atau lebih dikenal dengan nama The (Second) Folk Revival atau Contemporary Folk Music yang mencapai puncaknya di era 60-an. Genre inilah yang saat ini kita sebut sebagai genre folk. Jenis musik folk yang satu ini akhirnya memunculkan genre fusion baru, beberapa diantaranya adalah folk metal, folk pop, folk rock, electric folk, dsb.

Sejatinya dalam meramu musik itu sendiri terdapat banyak unsur-unsur tradisi dan kebudayaan memberikan warna pada part-part musiknya, namun sebagian musisi hanya memberikan penekanan pada nilai kesederhanaan saja. Sisi-sisi tradisional dan kontemporer dalam folk musik dikemas dengan porsi yang beragam, sesuai kebutuhan, sehingga membentuk karakter musik yang diinginkan muisisinya.

Tidak dapat dikatakan tepatnya tanggal berapa musik folk lahir di dunia, tetapi berkembang di sekitar pertengahan abad ke-19 dan 20 ada yang mengatakan juga bahkan lebih jauh lagi sebelum abad 19. Thomas William yang berkebangsaan Inggris (1846) merupakan orang pertama yang menggunakan istilah folk untuk menggambarkan tradisi, adat istiadat dan cerita rakyat yang berkembang di masyarakat lokal dengan menggunakan kata-kata folk song, folk music dan folk dance dalam setiap tulisannya.

Namun istilah ini hanya dikenal beberapa kelompok orang saja. Baru di tahun 1960, istilah folk mulai digunakan di negeri Paman Sam hingga menyentuh industri musik Amerika. Bob Dylan juga terlibat dalam mempopulerkan nama musik folk di industri musik internasional, dengan kemenangannya di kategori Best Contemporary Folk Recording ajang mewah penghargaan musik Grammy tahun 1987. Sejak saat itu, folk resmi menjadi salah satu genre musik.

Karena musik folk ini adalah musik etnik atau musik tradisional, musik ini sangat erat kaitannya dengan etnografi. Corak musik folk ini berbeda-beda di setiap wilayahnya. Mulai dari kota, suku, negara bahkan benua. Hal ini membuat musik folk sangat kaya dalam instrumen, tune, pelafalan dan bahkan metode produksinya. Sudah seharusnya musik folk ini merepresentasikan kreatifitas dan kearifan lokal suatu masyarakatnya.

Figur paling terkenal dalam contemporary folk music adalah Woodie Guthrie. Dia-lah pionir dari contemporary folk music. Dia memulai merekam lagunya pada era 40-an, setelah tiba di New York. Ciri Khas paling ikonis dari Woodie Guthrie adalah tulisan “This Machine Kills Fascist” pada gitarnya. Banyak penulis lagu atau penyanyi yang merasa mendapat pengaruh besar dari Woodie Guthrie, beberapa diantaranya adalah Bob Dylan, Pete Seeger, Bruce Springsteen, dan Joe Strummer.

Perkembangan Musik Folk di Indonesia

Di Indonesia yang menjadi pionir musik folk adalah Gordon Tobing. Ia adalah musisi kelahiran Medan. Gordon Tobing dengan grup vokalnya “Impola” sangat populer ditahun 1960an. Mereka berhasil menaklukan panggung internasional seperti Jerman dan Australia. Selain Gordon Tobing , musisi folk yang populer kala itu adalah Gombloh dan Leo Kristi.

Gombloh dan Leo adalah musisi kelahiran Surabaya. Mereka pernah membentuk band bernama Lemon Trees di akhir tahun 60an, dan mereka merilis album di tahun 1978. Salah satu lagu mereka yang sangat digemari pada masa itu adalah lagu yang berjudul Mawar Desa.

Di pertengahan tahun 1970-an muncul lah 2 sosok kakak beradik Franky Hubert Sahilatua dan Jane Sahilatua yang mulai dikenal publik sejak pertengahan tahun 1970-an dengan nama Franky & Jane. Franky & Jane sudah menghasilkan 15 album. Single andalan dalam album mereka adalah Perjalanan, dan Musim Bunga.

Tercatat, ada 3 kota besar yang menjadi basis pertumbuhan musik folk di Indonesia yaitu Jakarta, Bandung, dan Surabaya. Di kota Jakarta ada kelompok Kwartet Bintang yang dimotori oleh Guntur Sukarnoputra, putra sulung presiden Sukarno. Di Bandung sejak tahun 1967 telah berkiprah Trio Bimbo hingga Remy Sylado. Sedangkan di Surabaya sejak tahun 1969 telah terdengar nama Lemon Trees yang didukung oleh Gombloh dan Leo Imam Soekarno yang di era paruh 1970an dikenal dengan nama Leo Kristi.

Beberapa di antaranya bahkan telah merilis album rekaman seperti Trio Bimbo yang merekam album lewat label Fontana di Singapura pada tahun 1971. Memasuki era 70-an dan 80-an muncul Iwan Falls, Ebiet G. Ade, Franky and Jane dan banyak lagi. Di tahun 90-an hadir Slank dengan nuansa Folk yang berbeda dengan pendahulunya, meskipun nuansa Folk band ini tidak muncul pada seluruh lagunya dan cenderung tidak dominan.

Musik folk kini menjadi salah satu alternatif genre yang digandrungi pendengar musik Indonesia. kalau dirunut kebelakang sejenak, munculnya kembali musik folk ditandai dengan munculnya kembali musisi-musisi muda yang menggunakan musik folk sebagai bagian dari karya mereka, salah satu contohnya adalah lagu-lagu karya Payung Teduh.

Bubar di akhir tahun 2017 kemarin, karya-karya Payung Teduh masih jadi salah satu contoh kebangkitan musik folk ditengah-tengah dunia musik, apalagi dunia musik anak muda. Salah satu lagunya yang berjudul. Untuk Perempuan Yang Sedang Di Pelukan? jadi salah satu lagu folk Payung Teduh yang masih sering diputar.

Band lainnya adalah Dialog Dini Hari, yang beranggotakan Dadang SH Pranoto, Joshua Stevenson, dan Mark Liepmann. Dibentuk pada tahun 2008, lagu-lagu musik folk Dialog Dini Hari juga menjadi salah satu trigger munculnya banyak musik folk di industri musik Indonesia.

Satu lagi yang bisa jadi contoh sebagai ‘penyemangat’ lahirnya karya-karya musik folk di Indonesia adalah karya-karya Danilla Riyadi. Lahir di tahun 1990 dan sering memainkan pianika pada saat manggung, lagu-lagu Danilla bisa jadi contoh musik folk yang lahir di tengah-tengah musik Indonesia.

Dengan eksisnya musik folk di tengah-tengah masyarakat Indonesia, maka cara yang mengapresiasi musik folk juga untungnya masih ada hingga sekarang, di pertengahan tahun 2017 kemarin, Folk Musik Festival 2017 diadakan di Malang, tentunya dengan menampilkan banyak musisi-musisi musik folk tanah air, seperti Silampukau, Payung Teduh, Float, Monita Tahalea, Stars and Rabbit, Vira Talisa dan musisi-musisi lainnya.

Itulah penjelasan mengenai musik folk yang mungkin kurang Anda pahami. Semoga dengan artikel di atas membuat Anda lebih mengerti dengan musik folk dan menyukai aliran musik tersebut. Sampai jumpa pada artikel selanjutnya ya. Terima kasih.